Jumat, 23 September 2011

JADWAL PERKULIAHAN SEMESTER GAZAL PROGRAM STUDI STRATA SATU (S1) PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-AZHARY MAMUJU MAHASISWA SEMESTER 1 (SATU) TAHUN AKADEMIK 2011/2012


JADWAL PERKULIAHAN SEMESTER GAZAL
PROGRAM STUDI STRATA SATU (S1) PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-AZHARY MAMUJU
MAHASISWA SEMESTER 1 (SATU)
TAHUN AKADEMIK 2011/2012

HARI
WAKTU
MATA KULIAH
DOSEN
JUMAT
14.00 – 15.30 Wita
Tauhid / Ilmu Kalam
H.Taufik Abdullah, S.Ag.
JUMAT
16.00 – 17.30 Wita
Pancasila
Bambang Wisnu Wardhana

Sabtu
08.00 – 09.30 Wita
Filsafat Umum
Samsul Alam, S.Sos.I
Sabtu
09.30 – 11.00 Wita
Dasar-dasar Pendidikan
Mahyudin Abdullah, M.Ag.
Sabtu
14.00 - 15.30 Wita
Psikologi Umum
Ir. Hj. A. Rosmalawati
Sabtu
16.00 – 17.30 Wita
Bahasa Indonesia


Minggu
08.00 – 09.30 Wita
Praktikum Bahasa Asing
Namru sdar, S.Ag
Minggu
09.30 – 11.00 Wita
Bahasa Inggris
Sitti Rahmah, S.Pd.I
Minggu
14.00 - 15.30 Wita
Bahasa Arab
Drs. Muh. Naim
Minggu
16.00 – 17.30 Wita
Ilmu Alamiah Dasar (IAD)
Drs. Safarullah Khan

Catatan : Perkuliahan dimulai pada tanggal 23 – September – 2011 s/d 13 Januari 2012
                  Ujian Akhir Semester Gazal dimulai pada tgl. 23 s/d 29 Januari 2012


Bagian Akademik
STAI AL-AZHARY MAMUJU

Senin, 11 Juli 2011

Kenapa harus menghina?


Sebenernya aku nggak tahu banget tentang agamaku ini. Hanya mengerti sedikit-sedikit, itu juga karena  nonton acara "ceramah pagi" di TV. atau juga sekedar baca buletin yang disebarkan di Masjid pas waktu sholat jumat. Dan kalau diajak berdebat tentang ajaran mana yang lebih bagus antara islam dan diluar islam, jelas aku kalah. Karena aku memang ga bisa berdebat tentang ajaran agama yang aku peluk sejak lahir ini. Selain aku ga bisa menerangkan antara dalil ini dan dalil itu, mana yang shohih dan mana yang tidak shohih, urutan ayat Al-quran yang satu dengan yang lain, hubungan ayat per ayat atau hadits per hadits, sebab turunnya Ayat, atau sebab terjadinya hadits. Maka aku akan mengatakan RA DONG BLAS! alias ga tau sama sekali. Yang aku tahu ya hanya sebatas menjalankan apa yang aku tahu. Yah, inilah kesalahanku. agama hanya sekedar rutinitas dan tradisi. 
Tapi yang aku rasakan dengan agama ini, agaknya bisa dijadikan bahan renungan. Sekali lagi bukan sebagai bahan perdebatan. Karena agama menurutku tidak layak untuk diperdebatkan. Kenapa? Jelas dan tegas agamaku mengatakan, LAKUM DIINUKUM WA LIYADIN... Agamamu ya untukmu, agamaku ya untukku. Jelaskan? Terus kenapa orang harus mendebat kalau agama yang aku peluk ini salah, nabinya busuk dan sebagainya. 

Menurutku yang awam tentang agama sih, jalanin aja apa yang kita yakinin benar. Setiap manusia memang punya kecenderungan untuk mengajak. Mengajak orang lain untuk setuju dengan pendapatnya, mengajak orang lain untuk mengikuti langkah-langkahnya dan mengajak orang lain untuk bersatu dengan dirinya. Itulah fitrah manusia.  Apapun posisi kita dan dimanapun kita berada,  manusia tetap akan melakukan hal itu. Tapi apakah memang dalam mengajak orang  lain harus dengan mengadakan perdebatan?   Harus dengan menjelek-jelekan orang lain? 

Fitrah bagi mahluk yang hidup dimuka bumi adalah mempertahankan diri ketika dia merasa diancam. Demikian juga manusia. Jika merasa dirinya diancam maka dia akan memberontak sesuai dengan kemampuannya. Jika dia merasa di hina namun dia tak bisa membalas dengan hinaan maka perkelahianlah yang terjadi.

Jelas disini orang akan membela apa yang diyakininya. Nah inilah yang menjadi pemicu permasalahan. Kenapa kita ga damai aja sih? Kalau kita merasa agamanya yang terbaik dan paling baik ya jangan menghina agama orang lain... Kalau memang sukunya paling baik dan yang terbaik, ya jangan menganggap suku orang lain berada dibawahnya. Coba kita mau membuka diri, ambil satu elemen dimana kita bisa bersatu. jangan mencari perbedaan. Karena jika kita mencari perbedaan, jelas akan banyak sekali kita temukan. Contoh: kita satu agama, atau satu suku, atau satu negara, atau satu rumpun, atau satu.... dan satu yang lain... pokoknya bisa aja kita temukan kalau kita sama-sama mau membuka diri. 

Kalau dalam agama yang saya anut sih, ada ungkapan :"Belum beriman seseorang sebelum orang lain merasa aman dari mulut dan tangannya". referensi yang lain mengatakan "belum beriman seseorang sebelum orang lain merasa aman dari lisan dan perbuatannya". Tapi saya yakin dan percaya, jika dalam agama lain juga ada ungkapan yang hampir sama artinya. Seperti "Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu". 

Kenapa kita ga coba ajak orang lain karena kelembutan yang kita miliki, atau karena ke-MANFAAT-an kita. Bukan karena "KEPANDAIAN" kita dalam menghina orang lain... Ke-PINTARAN-an kita dalam meng-AJAK, mestinya dapat membuat perubahan baru yang lebih baik. Apakah dari hal sopan santun, budaya, intelegensi, mental dan spirit untuk membangun. Membangun lingkungan agar lebih nyaman. Membangun bangsa agar lebih makmur dan membangun agama agar lebih berakhlaq. 


Sabtu, 02 Juli 2011

Adab Silaturahim...

Seperti janji saya yang telah lalu, sekarang kita coba ngomongin tentang Silaturrahim. Atau menjalin hubungan persaudaraan sesuai dengan ajaran Islam. Banyak Hadits Shahih yang bisa kita jadikan landasan untuk menjalin hubungan persaudaraan sesama. Diantaranya; Nabi saw bersabda : Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu” (HR. Baihaqi).
Selanjutnya masih ada lagi; "Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan (H.R. Bukhari-Muslim).

Tapi gimana sih cara atau adab kita bersilaturrahim menurut syariat islam? Insya Allah sekarang kita coba obrolin hal tersebut.

1. Niat karena ALLAH.
Silaturrahim diantara manusia adalah hal yang bagus dan sangat dianjurkan oleh agama. Itu karena manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial, maka manusia yang satu tidak bisa lepas dari manusia yang lain. Seperti tadi malam, ada teman yang datang menawarkan bisnis kekeluargaan atau Multi Level Marketing (MLM). Sambil berbisnis sambil silaturrahim... Bagus juga idenya. uang dapet, silaturrahim juga dapet. Artinya sekali dayung dua- tiga pulau terlampaui. Dan lebih bagus lagi jika para pelaku bisnis MLM merubah niat "memprospek" bukan karena tutup point, tapi karena Allah. Pasti akan LUAR BIASA!!! karena para pelaku tidak akan mendapat rasa kecewa, melainkan rasa bahagia. Kenapa? Ketika kita datang karena "uang". maka ketika kita tidak dapat "uang" pasti kita kecewa. Namun jika karena ALLAH kita datang, orang yang kita prospek itu gabung atau tidak gabung dalam bisnis kita, tapi kita sudah "dapat" yang kita inginkan. ya.. rasa persaudaraan itu.

2. Memulai silaturrahim dari tetangga.
Abu hurairah Berkata,"seorang laki-laki berkata pada Rasulullah,"Wahai Rasulullah si Fulanah (Seorang Perempuan) terkenal sangat rajin salat dan berpuasa namun, dia suka menyakiti tetangganya dengan kata-kata.'Rasulullah berkata,"dia akan menjadi penghuni neraka."

Ada pepatah, saudaramu yang terdekat adalah yang pintu rumahnya paling dekat dengan pintu rumahmu. Bayangkan, tetangga adalah orang yang paling sering kita repotkan. dalam segala hal. Sebagai contoh; dari mulai anak-anak yang ribut dirumah, suaranya sampai kerumah tetangga. Andaikata tetangga kita mau tidur siang, emang ga tertanggu dengan suara ribut yang dihasilkan dari teriakan, jeritan anak-anak kita dan musik yang keluar dari music player yang kita punya. Sambal yang digoreng oleh istri, bikin tetangga bersin-bersin. Belum lagi kalau kita sedang kena musibah, seperti sakit atau sebagainya. Pasti tetangga duluan yang kita minta bantuannya. 

3. Saudara sedarah.
Maksudnya adalah saudara dari Bapak atau saudara dari ibu. Paman, bibi, kakek, sepupu, om, tante, dan lain sebagainya. Ini supaya kita tahu siapa saudara yang sangat membutuhkan "bantuan" kita, dan ga jadi "omongan" dikemudian hari. Bayangin aja ketika kita sudah jadi orang hebat, tapi ternyata ada saudara sepupu kita yang hidup dibawah garis kemiskinan. Dan kita tidak tahu. selanjutnya ada orang yang tahu tentang hubungan kekerabatan tersebut. Apa yang akan terjadi?

4. Sedekah.
Sedekah yang dimaksud, tidak harus berupa harta benda, melainkan membuat orang lain senang serta bahagia, itulah yang dimaksudkan sedekah. Cuma kadang kita menafsirkan sedekah dengan harta atau barang. Atau menafsirkan sedekah hanya "dari yang mampu kepada yang tidak mampu".  Padahal Senyum juga sedekah, kan? Berbuat baik dengan tidak menyakiti hati dan perasaan, juga sedekah. 

Jadi mulai kapan kita mau bersilaturrahim ? Kalau bisa jangan ditunda lagi. Fasilitas sekarang makin canggih. Dari mulai Surat, SMS, Telephone, Facebook, Twitter, YM, Skype, semua sudah membuat suasana menjadi semakin meriah dalam silaturrahim, moda angkutan juga semakin mudah. Dari mulai sepeda motor, mobil pribadi, bus, kapal laut, pesawat, dari mulai yang kelas promo sampai kelas utama. LUAR BIASA.... 

Oke sampai disini dulu tulisan kali ini, moga bermanfaat, jangan lupa komentarnya ditunggu untuk perbaikan penulisan....

Kamis, 30 Juni 2011

Silaturrahim I

Kadang aku merasa jengah dengan kata "teman" atau "saudara". Karena banyak orang mau mengaku "saudara" hanya karena ingin "mendapatkan" apa yang diinginkan. Dan yang kadang membuat seseorang menjadi semakin jengah ketika "saudara" kita justru mengganggu kehidupan rumah tangga kita.

Pada teorinya, banyak teman, banyak sahabat, banyak saudara bikin kita senang, bikin kita bahagia. Tapi pada kenyataannya, hal itu belum tentu terjadi.. Ada sebagian orang, yang memanfaatkan pertemanan untuk mendapatkan kesenangan pribadinya. Entah itu dari uang yang dimiliki, atau karena fasilitas yang lain.Bahkan lebih parah lagi, kalau kata teman itu justru bermuara pada perselingkuhan, ini bisa terjadi karena si pelaku adalah dua manusia berbeda jenis kelamin. Inilah yang diatur dalam Islam.

Islam tidak menganjurkan pemeluknya untuk berhubungan dua manusia berbeda jenis yang bukan mahromnya untuk berhubungan terlalu erat. Bukan berarti islam melarang karena "silaturrahmi"nya, tapi karena efek yang ditimbulkannya. 

Baru-baru saja, ada seorang teman lama kembali menghubungiku. Dengan dalih pertemanan dia mencoba berkomunikasi. Lalu, mencoba mengingatkanku pada masa lalu saat kami sama-sama diorganisasi kepemudaan. Sejenak ingatanku melayang pada masa lalu. Dimana masa itu, keceriaan adalah menu utama diantara para anggota didalam organisasi, semuanya menganggap dirinya sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Hebat memang...

Tapi kenapa justru buntutnya jadi ga enak? Bukan saja membuat resah bagi istriku tercinta, tapi juga bagiku secara pribadi. Mulai yang telephone berdering terus menerus, sampai sms yang menurutku, isinya "ga mutu".
Ada yang minta bantuan ini dan itu dengan berbagai alasan, ada juga yang mencoba menggoda dengan "menawarkan" adiknya yang juga sudah bersuami. "Ga bener", pikirku. Sebenarnya apa sih motivasi bagi pelaku silaturrahim seperti itu?

Sejenak kita renungkan arti silaturrahim dalam islam. Silaturrahim adalam menyambung hubungan persaudaraan. Yang namanya saudara, kalau kurang ya dibantu, artinya kalau kurang bener, ya kita ingatkan, kalau kurang materi, ya kita sumbang. Asal jangan kurang ajar....

Semua yang ada pada kita suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Tidak sampai nunggu kita mati, kita sudah dimintai pertanggungjawaban. Apalagi kalau sampai mati.... waaah bisa celaka. Bayangkan jika amanah yang kita berikan pada orang lain ternyata tidak dijalankan dengan sepenuh hati. Pasti kita akan kecewa. Apalagi amanah yang kita berikan itu, diselewengkan. Wooow.... luar biasa. 

Demikian juga dalam hidup berumah tangga. Istri adalah amanah bagi suami, dan suami adalah amanah bagi istri. Jika salah satunya tidak menjalankan amanah dengan baik, pasti akan terjadi kekecewaan disalah satu pihak. Berumah tangga pasti kita mengatakan didasari CINTA. sedangkan cinta adalah HARAPAN. pasti harapan kita, tidak ingin menjadi kekecewaan. Dan saya mengharapkan, istriku menjadi bidadari duniaku, dan bidadari syurgaku. Itu adalah harapan...  maka untuk menjadi hal seperti itu, maka tugas suami adalah menjaga sang istri. Menjaga dari rasa cemburu yang bisa dihasilkan karena pertemanannya dengan orang lain, rasa curiga yang dihasilkan dari pergaulannya, rasa aman dari hasil pekerjaanya. (gaji/penghasilannya). Rasa aman dari yang haram dan syubhat yang dilakukan oleh suaminya. Demikian juga dengan suami, pasti mengharapkan hal serupa dari sang istri. Namun apa yang terjadi jika hal itu tidak terwujud? Pasti kekecewaan itulah hasilnya. Inilah yang biasanya terjadi pada dunia perkawinan.

Maka Silaturahim yang baik adalah silaturrahim yang didasari karena Allah. Jika kita mencintai saudara karena Allah, maka Insya Allah, hal itu akan menjadi indah. Namun karena dasarnya adalah karena Allah, kita pasti harus berjalan sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah didalam Firman-firmanNya dan juga sesuai dengan Hadits dari RosulNya.

So Buat Saudara-saudaraku... yuuk kita jkaji lagi "pertemanan dan persaudaraan" kita, apakah sudah sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan? Insya Allah lain waktu, akan kita gali Adab Silaturrahmi menurut pandangan Syariat Islam...


Selasa, 28 Juni 2011

Menikah Tanpa Pacaran.... Kok bisa?

Membaca sebuah blog yang ditulis oleh seorang teman tentang “MENIKAH TANPA PACARAN”. Aku kira it’s oke. Aku setuju dengan hal tersebut, walaupun aku sendiri bukan pelaku dari hal itu.

Aku dan mama Dhany bertemu dipertengahan tahun 1990, kami adalah teman satu kelas di SMA. Kami bertemu pada saat kami kelas satu SMA. Walaupun saat itu, aku sudah mulai tertarik dengannya, namun masih takut-takut dalam mengutarakan isi hatiku padanya. Namun karena sudah mulai ada “rasa” maka jika dia berdekatan dengan teman pria, ada rasa cemburu yang menjalar dihati. Aku jadi uring-uringan sendiri. Hal ini berlangsung selama tiga tahun. Kami lulus dari bangku SMA di tahun 1993.

Hingga di tahun 1998, kami bertemu kembali. Pada saat itu, aku sudah berani mengutarakan isi hatiku padanya. Namun karena pada saat itu, keadaanku masih dianggap sebagai “pengangguran”. Maka aku belum berani mengajaknya untuk berbicara tentang pernikahan.

Sebenarnya aku juga bukan pengangguran 100%, karena aku mempunyai kegiatan yang menghasilkan uang. Mulai dari beternak cacing, beternak jangkrik, yang saat itu sedang booming di tempat asalku. Ada juga aku mempunyai perusahaan kecil yang bergerak dibidang perdagangan. Namun karena aku tidak bekerja secara formal, maka aku masih dianggap sebagai pengangguran oleh masyarakat sekitar.

Maka diakhir tahun 1998, aku mencoba melangkahkan kaki menuju  jakarta. Kota metropolitan.  Yang kata orang, mengadu untung disana biasanya lebih baik. Selama dua tahun aku hilir mudik dijakarta mencari pekerjaan. Walaupun aku lompat sana sini untuk sekedar hidup, dari mulai jual pepaya di daerah cimanggis, mendaur ulang ban mobil bekas, hingga menjadi penjaga villa di Bandung. Semua sudah pernah aku lakukan.

Hingga di tahun 2000, mama Dhany berangkat juga kejakarta. Dan bekerja disalah satu perusahaan didaerah cengkareng, jakarta barat. Aku masih menjadi penjaga villa didaerah Bandung selatan waktu itu. Hingga akhirnya berkat relasi seorang teman SMA juga, aku bisa bekerja di sebuah perusahaan yang cukup besar, diwilayah Tangerang.  

Diperusahaan tersebut, aku diterima sebagai karyawan yang ditempatkan di bagian laboratorium printing.  Sebuah tempat yang bagus. Disana aku mulai belajar bagaimana merumuskan warna yang cocok dengan gambar yang dipesan oleh klien.

Diakhir tahun 2000, aku mencoba menghubungi mama Dhany yang waktu itu berstatus sebagai pacar, untuk mengajaknya menikah. Dan  gayungpun bersambut, dia menerimanya. Hingga tepat diawal bulan januari tahun 2001 kami menikah. Ijab qobul dipimpin langsung oleh ayah mertuaku. Disaksikan oleh petugas KUA dan para tamu undangan lainnya.

Satu tahun berselang, tepatnya dibulan february 2002, anak pertamaku lahir. Kuberi nama dia DHANY. Anak yang lahir karena buah cinta kami. Tiga tahun kemudian, anak keduaku lahir. Dan kuberi nama DHAVY. Anak-anak kami tumbuh bersama dengan cinta kami. Hingga usia perkawinan kami saat ini menginkak 11 tahun lebih.

Diakhir tahun 2007 silam, kami mencoba peruntungan kami dikota yang baru berkembang, Mamuju. Kami bergabung dalam sebuah organisasi islam yang katanya terbesar di Mamuju kala itu. Di organisasi itu, tidak dikenal kata pacaran. Menurut mereka, itulah islam. Mereka menyatukan pria dan wanita didalam ikatan perkawinan tanpa berkenalan satu sama lain. “Ga masuk akal.” Kataku saat itu.

Namun ternyata, semua orang yang ada diorganisasi itu, memang melakukan hal yang sama. “Lho, kok bisa ya..?” itu pertanyaanku kala itu. Maklum aku nggak paham dengan hal-hal seperti itu.
“Mengapa islam melarang pacaran? Bukankah pacaran diperlukan untuk mengenal calon pasangan lebih dalam, hingga bisa tercipta komunikasi diantara pasangan tersebut? Ah, kalau pacaran itu menimbukan maksiat, itu mah tergantung sama pelakunya aja...” Itu yang ada dibenakku kala itu.

Tapi ternyata aku salah. Arti maksiat, hanya aku tafsirkan dengan sempit. Hanya sebatas Zina besar, Judi, minum-minuman keras, mencuri, dan lain sebagainya yang berbau dengan dosa yang berakibat fatal secara langsung. Sedangkan dosa-dosa yang berkibat tidak secara langsung, tidak aku kategorikan sebagai maksiat. Itulah kesalahan ku.

Bayangkan yang terjadi jika kita pacaran, bukannya bersyukur atas karunia Tuhan yang kita terima hari ini, justru kita merencanakan “perjalanan” dengan pacar. Ketika sang pacar berbicara dengan lelaki lain, yang ada rasa cemburu sudah menggelegak didada. Kecurigaan, su’udzon alias berburuk sangka sudah ada dipikiran kita. Hingga bukan lagi senyum yang keluar dari bibir kita, namun makian dan umpatan. Apakah hal itu bukan maksiat?

Jika ada masalah dengan sang pacar, baru kita mau bertemu dengan Tuhan. Emang Tuhan kerja di BUMN yang punya motto “mengatasi masalah tanpa masalah”? Salah besar, Bro! Permasalahan nya terletak pada aqidah. Sering bagi kita mengatakan Tuhan itu satu, Tuhan itu Esa, dan sebagainya... kenyataannya... perintah Tuhan tidak kita jalani. Sholat sering kita tinggalkan. Tapi permintaan pacar langsung kita kerjakan. Sebetulnya siapa yang jadi Tuhan?

Itu hanya satu permasalahan, bro! Masih banyak efek yang lain. Dan semua efek itu selalu membekas dalam hati.Ada seorang bekas pacar, menghubungi disaat kita sudah sama-sama menikah. Walaupun dilisan kita mengatakan sudah tidak ada apa-apa lagi, dia kini sudah jadi teman biasa. Tapi jika pasangan kita tahu, kalau itu adalah bekas pacar kita, bagaimana? Apakah ada jaminan tidak membuatnya cemburu? Dan apakah ada jaminan kalau pikiran dan hati kita tidak membayang lagi kemasa lalu? Dan apakah kita sudah kuat untuk tidak mencoba mengulangi masa manis dengan sang mantan?

Minimal itu dulu yang kita pahami. Mengapa islam tidak menganjurkan pemeluknya untuk berpacaran. Maka itu, buat para generasi muda, buat apa pacaran? Jika memang sudah mampu, segerakan perkawinan. Kalau komunikasi yang jadi masalah, itu sebenarnya bukan masalah. Yang jadi masalah sebenarnya hanya nafsu. “Coba kalau...., coba kalau...., seandainya...,” dan sebagainya.

Bahkan dulu sempat saya baca dari sebuah buku, ”Tidak ada yang namanya cinta bagi laki-laki dan perempuan sebelum menikah. Yang ada hanya nafsu. Nafsu untuk saling memiliki, nafsu untuk saling menguasai. Karena cinta yang sesungguhnya akan datang ketika sudah menikah. Cinta yang sesungguhnya adalah memberikan yang terbaik. Dan jika sudah menikahlah hal itu bisa terjadi. Itu menurut buku yang saya baca.

Tapi, memang keputusan itu ada ditangan setiap pelakunya. Hidup adalah pilihan. Terserah kita mau ambil yang mana. Ga ada paksaan. Ada pendapat lain?

Senin, 20 Juni 2011

Bermain sambil belajar....

 Belajar dalam lingkaran seperti ini kaya'nya asik juga kan.....
 Bergembira disela-sela pelajaran








































 Sholat Dhuha sebelum memulai pelajaran
 Belajar dialam terbuka bikin suasana jadi fresh...